^Back To Top

  

           PUTUSAN                   DELEGASI ONLINE

 

     JADWAL SIDANG                         SIPP

           PENGADUAN                          JDIH

SEJARAH

 

Dasar Hukum berdirinya Pengadilan Agama Ponorogo :

*   Pengadilan Agama Ponorogo didirikan berdasarkan Stbd 1820 No 20 jo Stbd 1835 No 58.

* Perubahan nama dan wilayah hukum serta lokasi Pengadilan Agama Ponorogo berdasarkan Stld 1828 No 55, Stbd 1854 No 128 dan Stbl 1882 No 152.


Daftar Nama Ketua Pengadilan Agama Ponorogo :

1.  KH. Djamaluddin                                             tahun 1947-1950

2.  KH. Syamsuddin                                              tahun 1950-1960

3.  KH. Moch. Hisjam                                            tahun 1960-1974

4.  K. Abidoellah                                                     tahun 1974-1979

5.  Drs. Muchtar RM                                              tahun 1979-1990

6.  Drs. H. Moh. Djamhur, SH                             tahun 1990-1999

7.  Drs. H. Muchtar RM, SH, M.Ag.                   tahun 1999-2006

8.  M. Hasjim, SH                                                    tahun 2006-2007

9.  H. Masyhuri Badar, SH                                   tahun 2007-2010

10. H. Machfudz, S.H.                                            tahun 2010-2013

11. Dra. Hj. Ati Khoiriyah, M.H.                         tahun 2013-2016

12. Dr. Drs. H. M. Munawan, S.H., M.Hum.   tahun 2016 - sekarang 

 


Sejarah pembentukan Daerah Tingkat II si wilayah Pengadilan Agama Ponorogo :

*   Islam adalah merupakan agama  yang paling dominan bagi nasyarakat Ponorogo, masuknya Islam di  Ponorogo  berasal dari Kerajaan Demak dibawa oleh Adipati Betoro Katong. Pada sekitar  tahun  1572M   di  Ponorogo  terdapat   sebuah   Pondok   Pesantren   terkenal   dan mempunyai  ribuan  santri  yang  datang  dari   berbagai   daerah,   yaitu  bernama  "Pondok Tegalsari"  yang  diasuh  oleh  Kyai Agung Anom Besari salah satu seorang santri Tegalsari yang telah banyak  dikenal  oleh  masyarakat  Indonesia  adalah  Pujannga Ronggo Warsito. Keturunan dari Kyai Ageng Anom Besari ada yang  bertempat  tinggal di Malaysia menjabat sebagai perdana menteri yang pertama yaitu Tengku Abdurrahman.

 

Sejarah pembentukan Pengadilan Agama Ponorogo :

Masa Penjajahan Belanda :

*   Agama Islam yang  berkembang  di  Ponorogo  dan ajaran Islam menjadi bagian kehidupan masyarakat   yang   ditaati  oleh  sebagian  besar  masyarakat  Ponorogo  termasuk  bidang akhwalusy syaksiyah dan muamalah yang  menyangkut  bidang  kebendaan.  Apabila timbul  perselisihan  diantara  orang  Islam  mereka  bertakhim   kepada  Kyai  dan  pada umumnya mereka patuh kepada fatwa yang disampaikan Kyai tersebut.


Pada masa kerajaan Sultan Agung di  Mataram  telah  didirikan  lembaga  yang  menangani persengketaan  dan  perselisihan  diantara  orang  Islam,  kemudian  diperkuat   kedudukan lembaga tersebut oleh pemerintah Hindia  Belanda  dengan  penerapan  Hukum  Islam  bagi orang-orang yang memeluk agama Islam, sebagaimana terbukti dalam putusan Laandraaad di  Jakarta  tanggal  15  Februari  1849,  yaitu  membatalkan  surat wasiat seorang pewaris karena isinya  tertentangan  dengan  Hukum  Islam,  hal  ini  dipertegas  dalam  compendiun dalam Stbl 1828 No 55 dan Stbl 1854 No 129 jo Stbl 1855 No 2.


Kemudian  lembaga  peadilan  bagi  orang-orang  Islam  pada  jaman  penjajahan   Belanda dikukuhkan  dengan  dikeluarkannya  Stbl  1882 No 152  dengan  nama  Raad  Agama atau Western Raad. Terbukti Raad  Agama  di  Ponorogo  pada  tahun  1885 telah berfungsi dan kewenangannya dalam memutus  perkara  sangat  luas,  diantaranya  telah  menyelesaikan / memutus  perkara  waris,  nafkah  fasah  dan  sebagainya  (arsi  putusan  tahun 1885). Pada tahun 1937 pemerintah  Hindia  Belanda  menerapkan  teori resepsi atau "receptie theorie" secara berangsur-angsur wewenang Raad Agama dikurangi  atau  dibatasai  kecuali  hanya masalah  nikah,  talak,  cerai,  rujuk (NTCR).  Adapun  perkara  kebendaan termasuk amal waris menjadi  wewenang  Land Raad / Pengadilan  Negeri,  sebagaimana diatur dalam Stbl 1937  No  116 f dan 610,  karena  itu  Putusan  Pengadilan Agama Ponorogo hanya berkisar pada perkara (NTCR).

 

Masa Penjajahan Jepang :

*   Pengadilan Agma Ponorogo pada jaman penjajahan Jepang tetap menjalankan tugas untuk menyelesaikan  perkara  yang  disengketakan  orang-orang  Islam sesuai dengan ketentuan yang  berlaku.   Landasan   hukum  yang  diperunakan  oleh  Pengadilan  Agama  Ponorogo adalah  Stbl  1882  No  152 jo Stbl 1937 No 116 dan 610 dan Hukum Islam yaitu  menangani perkara NTCR.

*   Pengadilan Agama Ponorogo menyimpan arsip putusan, produk zaman Belanda dan Jepang tahun  1885,  1937,  1943  dan  sebagainya  dan  keunikan  putusan  ini masih ditulis dengan tangan yang rapi.


Masa Kemerdekaan :

*   Kondisi    Pengadilan    Agama    Ponorogo   setelah   proklamasi   kemerdekaan   RI   tetap sebagaimana pada jaman penjajahan, tempat pemeriksaan perkara bagi orang-orang Islam dilakukan di serambi masjid,  kemudian  pindah  dari  rumah  ke  kerumah  lain milik tokoh masyarakat kota Ponorogo.

Pada  umumnya  Hakim  Agama berststatus honorer serta sarana dan prasarananya sangat tidak  memadai  dan  tidak  mencerminkan  lembaga  pemerintah  sebagai  penegak  hukum. Demikian pula kekuasaan  dan  wewenang  Pengadilan  Agama  Ponorogo  sangat  terbatas dalam perkara NTCR sebagaimana diatur dalam Stbl 1937 No 116 dan 610.

Sejak tahun 1947 Pengadilan Agama Ponorogo atas swadaya dari pada ulama' dan tokoh masayarakat secara resmi Pengadilan Agama Ponorogo mempunyai gedung kantor  sendiri yang   beralamat   di  Jalan  Bhayangkara   Ponorogo   (sebelah  selatan  Kantor   POLRES sekarang).

 

Susunan struktur organisasi Pengadilan Agama Ponorogo pada saat itu dijabat oleh :


Ketua          :  H. Djamaluddin

Hakim        :  1.   K. Bukhori

                        2.   K. Hasanuddiin

                        3.   K. Bani Isroil

                        4.   K. Syujuthi

Panitera     :  Kaelan

 

Dan selanjutnya berturut-turut Ketua Pengadilan Agama Ponorogo dijabat oleh :

1.  KH. Djamaluddin                                               tahun 1947-1950

2.  KH. Syamsuddin                                                tahun 1950-1960

3.  KH. Moch. Hisjam                                              tahun 1960-1974

4.  K. Abidoellah                                                       tahun 1974-1979

5.  Drs. Muchtar RM                                                tahun 1979-1990

6.  Drs. H. Moh. Djamhur, SH                               tahun 1990-1999

7.  Drs. H. Muchtar RM, SH, M.Ag.                     tahun 1999-2006

8.  M. Hasjim, SH                                                      tahun 2006-2007

9.  H. Masyhuri Badar, SH                                     tahun 2007-2010

10. H. Machfudz, S.H.                                              tahun 2010-2013

11. Dra. Hj. Ati Khoiriyah, M.H.                           tahun 2013-2016

12. Dr. Drs. H. M. Munawan, S.H., M.Hum.      tahun 2016 - sekarang 



Pada tahun 1982 Pengadilan Agama Ponorogo  mendapat  proyek  balai  sidang  dengan maksud untuk meningkatkan  pelayanan  bagi  pencari  keadilan  dan  perkembangan  jumlah perkara di Pengadilan Agama Ponorogo  sangat  meningkat  setelah diundangkan Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan dan Peraturan  Pemerintah  Nomor 9  tahun  1975,  maka  sejak tahun  1982  sampai  sekarang  (tahun 2008)  Pengadilan  Agama  Ponorogo   masih   menempati Kantor tersebut dan terus berkembang  sampai  mendapat  klasifikasi  Pengadilan  Agama Kelas I.B (dikutip dari Buku Yurisdiksi Pengadilan Agama Ponorogo tahun 2003).

Ketua PA Ponorogo

Link Terkait

Mahkamah Agung RI
Badan Peradilan Agama

Badan Pengawasan MA RI
Balai Diklat MA RI

Sistem Kepegawaian MARI


Polling Kepuasan Publik

Bagaimana pelayanan kami selama anda berperkara di Pengadilan Agama Ponorogo ?

Sangat Puas - 0%
Puas - 0%
Kurang Puas - 0%
Sangat Tidak Puas - 0%